Mengapa Saat di Gurun Orang Badui Mengenakan Jubah Berwarna Hitam?

Setiap hari sebagai orang normal kita pasti mengenakan pakaian. Berbagai jenis dan model pakaian sering kita jumpai atau mungkin sering kita kenakan, mulai dari pakaian gaul, ngetrend, biasa-biasa saja, atau bahkan sekedar menutupi badan.

Umumnya penggunaan pakaian disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Pakaian orang kutub cenderung tebal dan menyelimuti seluruh tubuh, pakaian orang saat olahraga cenderung lebih terbuka agar keringat cepat keluar dan proses pendinginan tubuh berjalan dengan baik. Pakaian perenang maupun atlit sepeda balap juga berbeda-beda. Dengan kata lain jenis pakaian merupakan bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungannya supaya kondisi tubuhnya dibuat senyaman mungkin.


Begitupun dengan pakaian gurun. Daerah gurun memiliki kondisi yang gersang dan bersuhu panas. Suhu daerah gurun dapat mencapat lebih dari 50 derajat celcius. Saat berada di daerah gurun kita juga harus mengadaptasikan jenis pakain agar kondisi tubuh kita senyaman mungkin.

Daerah yang terkenal memiliki gurun adalah daerah timur tengah, atau sebut saja negara arab. Dalam menghadapi kondisi gurun orang badui mengenakan jubah berwarna hitam. Kita tahu bahwa suatu benda yang permukaannya hitam biasanya menjadi lebih panas daripada yang permukaannya putih ketika keduanya berada dalam siraman cahaya matahari. Keadaan demikian juga berlaku pada jubah yang dikenakan oleh orang-orang badui di gurun Sinai. Jubah hitam menjadi lebih panas daripada jubah putih. 

Akan tetapi mengapa orang-orang badui senantiasa mengenakan jubah hitam ? 

Mengapa mereka tidak mengenakan jubah putih yang menyerap panas lebih sedikit dibanding jubah hitam? 

Apakah mereka penganut sekte tertentu yang diharuskan memakai jubah hitam?(hehe... mungkin tidak).
tidakkah itu malah merugikan mereka yang hidup di dalam ligkungan gurun yang kejam?


Ternyata orang badui pun mengaplikasikan konsep fisika dalam rancangan jubahnya. Hal ini berkaitan dengan konsep konveksi panas. 

Sebuah jubah hitam akan menyerap lebih banyak energi dari cahaya matahari daripada jubah putih dan dengan demikian akan berada pada suhu yang lebih tinggi. Kenyataannya, riset telah membuktikan bahwa digurun pasir yang panas, jubah hitam seorang badui dapat bersuhu 6 Co lebih tinggi daripada suhu jubah putih yang serupa. Jubah hitam yang bersuhu lebih tinggi daripada jubah putih ini memanaskan udara didalam jubah. Karena udara bersuhu panas memiliki massa jenis yang lebih kecil maka udara tersebut akan bergerak ke atas lebih cepat dan keluar melalui pori-pori kain. 

Sementara udara sejuk dari luar/bawah akan masuk kedalam jubah melalui bagian bawah jubah yang terbuka, proses transfer panas/kalor ini biasa disebut dengan konveksi. 

Konveksi ke arah atas melalui jubah hitam yang lebih panas itu lebih kuat daripada konveksi ke arah atas melalui jubah putih yang lebih dingin, sehingga orang badui tidak menjadi lebih panas sedikitpun dari orang yang mengenakan jubah putih. Sebenarnya angin sepoi-sepoi yang secara kontinu bertiup melewati tubuhnya malah mungkin membuatnya merasa lebih nyaman. Itulah alasan mengapa orang badui mengenakan jubah hitam saat di gurun. 

Referensi :Halliday,Resnick,,Walker. (2008). Dasar-Dasar Fisika Versi Diperluas. Tangerang: Binarupa Aksara
Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

Jadi kepikiran, kalau pindah kasus ke helm motor...
yang lebih adem-dingin pakai warna hitam atau putih?
secara helm aliran udaranya tak selonggar jubah.. yah..

Balas
avatar

oh iya mas, boleh juga diteliti dan di kaji lebih lanjut itu :D

Balas